TUGAS
ILMU BUDAYA DASAR
MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
(REPORTASE)
NAMA =
ADITYO HENDRATMO
NPM = 20111251
KELAS =
1KB01
Fakultas Ilmu
Komputer
Universitas
Gunadarma
Depok 2012
Tanggung jawab seorang ibu
lebih penting dari uang
Seorang Ibu yang bernama Ibu
Marwati, yang dikarunia Tuhan Yang Maha Kuasa 3 orang anak. Anak yang pertama
sudah duduk dibangku kuliah sedangkan yang kedua duduk dibangku SMA kelas 2 dan
yang terakhir masih baby berusia 6 bulan. Disaat ia mencapai puncak karir
sebagai pengusaha kecilkecilan kemudian ia mengambil keputusan yang berani
keputusan yang mungkin sangat jarang diambil oleh wanita lainnya saat ini,
yaitu memutusan untuk menutup usahanya saat ini demi mengurus dan membina anak
lebih dekat lagi dan membangun hidup harmonis bersama suami dan anak. Beliau
menegaskan “Tanggung jawab seorang ibu lebih penting dari uang, sebanyak apapun
kita memiliki uang pasti tidak akan pernah merasa cukup”.
Kehadiran seorang bayi atau
anak dalam rumah tangga merupakan saat-saat yang paling dinantikan . Bagi orang
tua kehadiran ini bagaikan terbitnya mentari yang akan membawa keluarga pada
sukacita yang berkesinambungan.
Kehidupan tidak akan pernah
mampu tercipta disaat kita tidak memiliki anak, anak adalah pelapas dahaga
disaat kita lelah sepulang kerja, anak selalu menjadi motivasi tersendiri bagi
seorang ayah untuk lebih giat lagi mencari nafkah dan biaya sekolah. Bayangkan
jika kita tidak memiliki buah hati didalam rumah alangkah sepinya tidak canda
dan tawa. Kalau begitu untuk apa kita berangkat pagi kekantor pulang sore jika
tidak memiliki anak? Bukankah itu semua kita lakukan untuk orang-orang tercinta
yang berada dalam rumah.
Anak bisa menjadi malapetaka yang begitu besar bagi kedua orangtuanya. Akan
menjadi aib keluarga, akan memberatkan timbangan pahala disaat yaumul hisab
hingga menjerumuskan ke neraka. Anak-anak kita nanti akan bersaksi “Ya Tuhan
selama aku hidup, aku tidak pernah mendapatkan bimbingan dari orang tuaku. Jadi
yang salah adalah orangtuaku…salahkan saja mereka!”. Tentu kita tidak mau
dituntut hal seperti ini kelak, yakinlah tuntutan seperti pasti akan terjadi
karena sudah dikabarkan di b suci al-qur’an . Mulai saat ini berikanlah
pendidikan secara langsung kepada mereka dan jangan pernah sekali-kali
menyerahkan bimbingan anak kita pada orang lain kalau tidak ingin menyesal
dikemudian hari. Kedekatan pada anak akan memberikan energi tersendiri bagi
perkembangan otak dan tubuhnya. Padi yang kita tanam sendiri akan merasakan
kepuasan diri disaat padi yang kita tanam sudah layak untuk dipetik. Hal yang
sama disaat lelah memberikan yang terbaik untuk keluarga akan dapat dirasakan
dikemudian hari, anak kita akan menjadi penolong disaat kita sudah tua renta
tentu kita tidak mau diusia yang seperti itu kita dimasukkan dipanti jompo
kemudian ditinggalkan sebagaimana kita sering meninggalkan mereka kerja. Anak
yang kita bimbing sendiri akan menjadi penolong disaat kita sudah meninggal dunia,
bukankah Tuhan sudah menjelaskan bahwa semua harta yang kita kumpulkan tidak
dapat kita bawa semuanya terputus kecuali doa seorang anak yang sholeh. Mulai
sekarang marilah kita merenungkan perkataan Ibu Yunia Kaiawati “Tanggung
jawab seorang ibu lebih penting dari uang, sebanyak apapun kita memiliki uang
pasti tidak akan pernah merasa cukup”.
Di dalam
Alkitab kita dapat membaca ayat yang berbunyi “Ada keturunan yang mengutuk
ayahnya dan tidak memberkati ibunya” (Amsal 30:11). Jika hal ini terjadi dalam
kehidupan kita, maka ini bukan harapan umat manusia. Namun kita tidak dapat
menutup kemungkinan mengalami kondisi seperti ini. Kadang hal ini terjadi
karena kecerobohan dan kelalaian dari para orangtua. Oleh sebab itu ayat yang
kita baca sebagai peringatan supaya jauh-jauh hari sebelumnya kita harus
menjaga dan memelihara kualitas sebagai orangtua yang bertanggung jawab. Kali
ini kembali akan kita fokus pada posisi seorang ibu.
Tidak gampang menjadi seorang ibu yang penuh tangung jawab, sebab seluruh tanggung jawabnya ada di pundaknya. Apa yang bisa kita pelajari dari seorang ibu yang bijaksana? Ibu itu memiliki multifungsi dalam keluarga? Kadang mereka yang sudah sibuk bekerja seharian di kantor sesudah pulang ke rumah masih dibebani dengan urusan rumah tangga, oleh sebab itu beban seorang ibu cukup berat. Oleh sebab itu para ayah sudah semestinya menghargai apa yang dilakukan oleh seorang ibu, bila perlu membantunya meyelesaikan segala tugas-tugas rumah yang tidak pernah kunjung habis itu. Ibu yang bijaksana itu seperti apa semestinya?
1. Ibu itu seperti seorang Guru
Ternyata bukan hanya mengandung selama sembilan bulan, lalu melahirkan maka selesai tugas seorang ibu. Tetapi seorang ibu juga harus menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya. Boleh dikatakan guru yang pertama di dunia bagi seorang anak adalah ibunya. Sang ibu harus mengajarkan mana yang baik dan buruk, hal itu dilakukan setiap hari. (lihat Ulangan 6:4-7) “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.“
Kesalahpahaman yang terjadi selama ini adalah, para ibu dalam hal ini orangtua berpikir bahwa tugas mengajar seorang anak adalah para guru di sekolah. Padahal di sekolah hanya diajarkan pengetahuan dan waktunya juga terbatas selama jam sekolah. Selebihnya adalah tugas orangtua, dalam hal ini peran seorang ibu tidak kalah pentingnya.
2. Ibu itu seperti seorang Suster
Kita tidak dapat menyangkalnya, perhatian seorang ibu telah melebihi seorang suster. Ia begitu memperhatikan akan kebutuhan dan kondisi anaknya, bahkan perasaan dan karakter anak-anaknya pun sudah dihafal. Seorang ibu yang baik tidak pernah membuat anak-anaknya kelaparan dan kekurangan, bahkan sering kali makanannya sendiri diberikan kepada anak-anaknya. Tidak jarang pula kita melihat seorang ibu makan makanan sisa dari anak-anaknya.
Ibu yang baik bukan hanya merawat anak-anaknya tetapi ia juga memikirkan masa depan anak itu. Contohnya Musa, sewaktu ia lahir, kondisinya tidak menguntungkan. Raja memberikan perintah agar membunuh anak-anak Israel yang baru lahir. Namun ibu Musa nekad menyimpan anaknya, padahal resikonya besar sekali. Pada saat bayi tersebut mulai besar, dan sang ibu merasa tidak sanggup lagi menyembunyikannya, tetap saja ia tidak putus asa, dan selalu merancang cara untuk menyelamatkan bayinya. Itu sebabnya maka Musa dimasukkan ke dalam sebuah keranjang dan dialirkan ke sungai Nil yang akhirnya diketemukan oleh puteri Firaun. Keluaran 2:8-9 mencatat "Sahut puteri Firaun kepadanya: 'Baiklah.' Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: 'Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.' Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya."
Bagaimana dengan para ibu jaman sekarang? Sering kita temui bahwa ibu jaman sekarang bukan lagi menganggap anaknya sebagai tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepadanya. Banyak ibu muda yang telah melahirkan namun tidak ingin menyusui anaknya. Tugas dan tanggung jawab lain diserahkan kepada para pengasuh yang sesungguhya para pembantu rumah tangga yang hanya memakai seragam putih. Mereka tanpa berpikir panjang rela kalau anak-anaknya dididik oleh mereka. Para ibu dan lengkapnya orangtua juga perlu hati-hati, jangan menempatkan anak-anak kita sebagai “investasi”. Bila rajin, cantik, pandai maka diharapkan agar masa tuanya lebih aman dan terjamin.
Konon suatu hari seorang anak melihat tetangganya baru membeli mobil mewah, maka ia pun meminta kepada ayahnya untuk membeli mobil yang sama. Sang ayah berkata, “jangan minta yang macam-macam, kita ini orang miskin; makanya kamu harus rajin sekolah supaya menjadi orang kaya” Lalu sang anak menjawab dengan sebuah pertanyaan “Emangnya dulu ayah tidak pernah sekolah?” Lalu ayahnya menjawab singkat “Ada” Kemudian sang anak melanjutkan lagi: “Kenapa ayah dahulu tidak rajin-rajin sekolah supaya bisa beli mobil seperti tetangga kita?” Orangtua sering kali salah kaprah, mereka berpikir anak-anak adalah “modal” mereka di hari tua. Ibu yang benar justru merawat anaknya tanpa pamrih. 1 Tesalonika 2:7 “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang mengasuh dan merawat anak-anaknya”
` 3. Ibu itu seperti seorang Konselor
Tidak jarang kita menemukan seorang anak kecil menjerit "Mama" ketimbang “Papa”. Hal ini membuktikan bahwa anak itu lebih gampang berkomunikasi dengan Mama. Sebagai seorang Konselor seorang ibu biasanya penuh bijak dalam memberikan pengarahan dan nasihat. Kesensitifan seorang ibu merupakan ciri khasnya sehingga ia dapat mengetahui masalah yang dipergumulkan sang anak. Salah seorang tokoh ibu dalam Alkitab yang dapat kita baca terdapat di dalam kitab Hakim-hakim 14:3 Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: "Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?" Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: "Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai." Simson tidak mengindahkan kesensitifan ibunya, sehingga ia mengabaikan nasihatnya, akibatnya cukup fatal.
Contoh lain Maria ibu Yesus. Pada saat mereka menghadiri pesta nikah di Kana, kebetulan waktu itu anggur yang dihidangkan itru habis. Maria ibu Yesus mengetahui apa yang harus diperbuat oleh anaknya. Itu sebabnya maka ia meminta Yesus melakukan sesuatu, maka terjadilah mujizat air menjadi anggur.
Kata-kata dalam sebuah lagu anak-anak tatkala saya masih kecil di Indonesia yang berjudul Kasih Ibu sangat bagus sekali. “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepenjang masa. Hanya memberi dan tak harap kembali. Bagai sang Surya menyinari dunia” Benar kasih seorang ibu yang penuh hikmat dan bijaksana itu tanpa berharap balasan, ia hanya memberi seperti apa yang dikerjakan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Ia bahkan memberikan nyawa-Nya demi menyelamatkan kita.
4. Ibu itu seperti seorang Teman
Amsal 17:17 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” Sering terjadi di dalam kehidupan manusia, sahabat yang banyak itu tergantung pada seberapa sukses dan berhasilnya kita. Tidak jarang terjadi tatkala kita bermasalah dengan keuangan kita, maka sahabatpun kabur. Ada banyak pengalaman yang terjadi, tatkala kita membutuhkan uang, sahabat itu yang tadinya baik pada hilang semua. Perhatikanlah seorang ibu yang bijaksana tidak demikain, ia merupakan teman yang sejati pada waktu kita susah dan senang. Bahkan merupakan suatu kesedihan tersendiri jika seorang ibu mengetahui masalah anaknya yang belum tuntas.
Kemarin saya sempat berbicara dengan seorang ibu yang kebetulan anaknya baru menikah Kamis lalu. Ibu tersebut merasa senang sekali, sebab anaknya sudah memiliki pendamping. Ia berkata, sekarang kami sudah bebas, kekuatiran kami juga sudah habis, anak kami sudah menikah. Ibu yang sebagai teman yang sejati ini sangat berat hati bila anaknya yang sebagai temannya itu masih bergumul dengan persoalan hidup.
Ternyata bukan hanya mengandung selama sembilan bulan, lalu melahirkan maka selesai tugas seorang ibu. Tetapi seorang ibu juga harus menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya. Boleh dikatakan guru yang pertama di dunia bagi seorang anak adalah ibunya. Sang ibu harus mengajarkan mana yang baik dan buruk, hal itu dilakukan setiap hari. (lihat Ulangan 6:4-7) “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.“
Kesalahpahaman yang terjadi selama ini adalah, para ibu dalam hal ini orangtua berpikir bahwa tugas mengajar seorang anak adalah para guru di sekolah. Padahal di sekolah hanya diajarkan pengetahuan dan waktunya juga terbatas selama jam sekolah. Selebihnya adalah tugas orangtua, dalam hal ini peran seorang ibu tidak kalah pentingnya.
2. Ibu itu seperti seorang Suster
Kita tidak dapat menyangkalnya, perhatian seorang ibu telah melebihi seorang suster. Ia begitu memperhatikan akan kebutuhan dan kondisi anaknya, bahkan perasaan dan karakter anak-anaknya pun sudah dihafal. Seorang ibu yang baik tidak pernah membuat anak-anaknya kelaparan dan kekurangan, bahkan sering kali makanannya sendiri diberikan kepada anak-anaknya. Tidak jarang pula kita melihat seorang ibu makan makanan sisa dari anak-anaknya.
Ibu yang baik bukan hanya merawat anak-anaknya tetapi ia juga memikirkan masa depan anak itu. Contohnya Musa, sewaktu ia lahir, kondisinya tidak menguntungkan. Raja memberikan perintah agar membunuh anak-anak Israel yang baru lahir. Namun ibu Musa nekad menyimpan anaknya, padahal resikonya besar sekali. Pada saat bayi tersebut mulai besar, dan sang ibu merasa tidak sanggup lagi menyembunyikannya, tetap saja ia tidak putus asa, dan selalu merancang cara untuk menyelamatkan bayinya. Itu sebabnya maka Musa dimasukkan ke dalam sebuah keranjang dan dialirkan ke sungai Nil yang akhirnya diketemukan oleh puteri Firaun. Keluaran 2:8-9 mencatat "Sahut puteri Firaun kepadanya: 'Baiklah.' Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: 'Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.' Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya."
Bagaimana dengan para ibu jaman sekarang? Sering kita temui bahwa ibu jaman sekarang bukan lagi menganggap anaknya sebagai tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepadanya. Banyak ibu muda yang telah melahirkan namun tidak ingin menyusui anaknya. Tugas dan tanggung jawab lain diserahkan kepada para pengasuh yang sesungguhya para pembantu rumah tangga yang hanya memakai seragam putih. Mereka tanpa berpikir panjang rela kalau anak-anaknya dididik oleh mereka. Para ibu dan lengkapnya orangtua juga perlu hati-hati, jangan menempatkan anak-anak kita sebagai “investasi”. Bila rajin, cantik, pandai maka diharapkan agar masa tuanya lebih aman dan terjamin.
Konon suatu hari seorang anak melihat tetangganya baru membeli mobil mewah, maka ia pun meminta kepada ayahnya untuk membeli mobil yang sama. Sang ayah berkata, “jangan minta yang macam-macam, kita ini orang miskin; makanya kamu harus rajin sekolah supaya menjadi orang kaya” Lalu sang anak menjawab dengan sebuah pertanyaan “Emangnya dulu ayah tidak pernah sekolah?” Lalu ayahnya menjawab singkat “Ada” Kemudian sang anak melanjutkan lagi: “Kenapa ayah dahulu tidak rajin-rajin sekolah supaya bisa beli mobil seperti tetangga kita?” Orangtua sering kali salah kaprah, mereka berpikir anak-anak adalah “modal” mereka di hari tua. Ibu yang benar justru merawat anaknya tanpa pamrih. 1 Tesalonika 2:7 “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang mengasuh dan merawat anak-anaknya”
` 3. Ibu itu seperti seorang Konselor
Tidak jarang kita menemukan seorang anak kecil menjerit "Mama" ketimbang “Papa”. Hal ini membuktikan bahwa anak itu lebih gampang berkomunikasi dengan Mama. Sebagai seorang Konselor seorang ibu biasanya penuh bijak dalam memberikan pengarahan dan nasihat. Kesensitifan seorang ibu merupakan ciri khasnya sehingga ia dapat mengetahui masalah yang dipergumulkan sang anak. Salah seorang tokoh ibu dalam Alkitab yang dapat kita baca terdapat di dalam kitab Hakim-hakim 14:3 Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: "Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?" Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: "Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai." Simson tidak mengindahkan kesensitifan ibunya, sehingga ia mengabaikan nasihatnya, akibatnya cukup fatal.
Contoh lain Maria ibu Yesus. Pada saat mereka menghadiri pesta nikah di Kana, kebetulan waktu itu anggur yang dihidangkan itru habis. Maria ibu Yesus mengetahui apa yang harus diperbuat oleh anaknya. Itu sebabnya maka ia meminta Yesus melakukan sesuatu, maka terjadilah mujizat air menjadi anggur.
Kata-kata dalam sebuah lagu anak-anak tatkala saya masih kecil di Indonesia yang berjudul Kasih Ibu sangat bagus sekali. “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepenjang masa. Hanya memberi dan tak harap kembali. Bagai sang Surya menyinari dunia” Benar kasih seorang ibu yang penuh hikmat dan bijaksana itu tanpa berharap balasan, ia hanya memberi seperti apa yang dikerjakan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Ia bahkan memberikan nyawa-Nya demi menyelamatkan kita.
4. Ibu itu seperti seorang Teman
Amsal 17:17 “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” Sering terjadi di dalam kehidupan manusia, sahabat yang banyak itu tergantung pada seberapa sukses dan berhasilnya kita. Tidak jarang terjadi tatkala kita bermasalah dengan keuangan kita, maka sahabatpun kabur. Ada banyak pengalaman yang terjadi, tatkala kita membutuhkan uang, sahabat itu yang tadinya baik pada hilang semua. Perhatikanlah seorang ibu yang bijaksana tidak demikain, ia merupakan teman yang sejati pada waktu kita susah dan senang. Bahkan merupakan suatu kesedihan tersendiri jika seorang ibu mengetahui masalah anaknya yang belum tuntas.
Kemarin saya sempat berbicara dengan seorang ibu yang kebetulan anaknya baru menikah Kamis lalu. Ibu tersebut merasa senang sekali, sebab anaknya sudah memiliki pendamping. Ia berkata, sekarang kami sudah bebas, kekuatiran kami juga sudah habis, anak kami sudah menikah. Ibu yang sebagai teman yang sejati ini sangat berat hati bila anaknya yang sebagai temannya itu masih bergumul dengan persoalan hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar