Rabu, 06 Juni 2012

MANUSIA DAN PENDERITAAN (Opini)


TUGAS ILMU BUDAYA DASAR
MANUSIA DAN PENDERITAAN
NAMA       =  ADITYO HENDRATMO

NPM                   =  20111251

KELAS      =  1KB01

Fakultas Ilmu Komputer
Universitas Gunadarma
Depok 2012

MANUSIA DAN PENDERITAAN
             Penderitaan adalah sebuah rasa yang dirasakan setiap manusia ketika mreka tertimpa musibah atau mengalami kesialan. Di Indonesia khususnya banyuak sekali orang-orang yang menderita, karena keadaan mereka yang sangat memprihatinkan. Berbagai macam kondisi yang di dapat oleh roang-orang yang mengalami penderitaan yaitu kemiskinan, kelaparan, kecelakaan, penyakit yang tak kunjung sembuh dan banyak lainnya.

            Pada jaman sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan serta kesejahteraan hidup. Banyak orang-orang pedesaan berfikir bahwa mecari uang di perkoaan itu mudah, tetapi hal hasil banyak di daerah perkotaan orang-orang pedesaan banyak sekali mendapatkan pekerjaan yang tidak layak. Seperti mengemis, tukang pulung, pengamen bahkan preman yang kerjanya hanya meminta denga paksa uang orang lain. Ekonomi adalah faktor utama orang-orang mengalami penderitaan, alangkah di sayangkan di Indonesia ini kemiskinan mencapai angka tertinggi.  Di perkotaan di butuhkan orang-orang yang mempunyai skill, pengalaman, serta tittle yang jelas untuk mendapatkan pekerjaan. Bukan hanya dengan sekedar alasan mengadu nasib, orang yang memang mempunyai kriteria bagus saja sulit untuk mendapatkan pekerjaan apalagi orang-orang yang hanya mengadukan nasibnya.

            Pendidikan sangat penting sekali untuk menunjang seorang manusia untuk hidup lebih sejahtera, ketika seorang mempunyai pengetahuan yang luas dan pikiran orang tersebut sudah terkonsep oleh ilmu-ilmu yang dimilikinya maka orang tersebut dapat mengembangkan dirinya di dalam kehidupan ini. Di Indonesia pendidikan sangatlah mahal harganya, orang-orang yang mempunyai tingkatan ekonomi yang rendah tidak dapat berbuat banyak. Dan pada akhirnya mereka pun sangat mengalami penderitaan di kolong-kolong jembatan, di pinggiran rel kereta api bahkan tempat tinggal mereka tidak jelas dimana. Sehrusnya kita semua harus membuka mata hati kita, apakah yang harus dilakukan agar terjadi perubahan yang benar-benar baik. Jika kita mampu janganlah memandang orang-orang di sekitar kita yang mengalami penderitaan dengan sebelah mata, justru itu kita bangkit dan mata hati kita harus benar-benar terbuka pada lingkungan. Dengan cara apapun yang kita lakukan itu sangat berarti sekali, sebagai contoh membuka suat yayasan untuk menampung anak-anak yang kurang mampu agar di berikan keterampilan serta pendidikan yang setara dengan pendidikan umum lainya dan yayasan tersebut tidak memungut biaya apapun.

            Contoh kecil seperti itu dapat menjadikan perubahan yang sangat drastis jika dilakukan terus menerus dan gigih. Maka dari itu penderitaan dapat kita hindari jika kita dapat bersama-sama dan berpegang tangan membangun manusia yang cerdas dan mempunyai ketrampilan yang baik, untuk bersaing di era globalisasi seperti sekarang ini.

Sangat berbeda jauh memang diantara keduanya. Seorang tukang sampah yang kerjaannya memungut sampah di tempat sampah hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Dan pastinya tukang sampah jauh dari gelimangan harta. Untuk makan saja begitu susahnya. Pastinya pekerjaan sebagai tukang sampah dipandang sangat hina dan rendah daripada pekerjaan lainnya. Seakan-akan mereka tidak punya harga diri lagi sampai harus dihina-hina terus oleh kebanyakan orang. Tentu saja mereka sebenarnya tidak mau harus hidup dengan keadaan yang selalu dihina, mereka ingin merasakan hidup yang berkecukupan meskipun tidak harus hidup bermewah-mewah dan bergelimangan harta. Tapi apalah daya, keadaan jugalah yang membuat mereka sedemikian.
Tidak adanya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan kemampuannya dan tidak adanya perhatian dari pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya yang masih hidup di bawah taraf kehidupan sangat rendah. Ya, akhirnya lebih memilih sebagai tukang sampah untuk bertahan hidup. Tapi dibalik semua itu, kita seharusnya berterimaksih kepada tukang sampah. Kalau tidak ada mereka lingkungan yang kita tempati pasti akan sangat kotor dan kumuh. Tidak semua orang mau mengurusi sampah, tapi dengan hati yang tulus mereka (tukang sampah)selalu membersihkan semua sampah yang kita buang setiap harinya. Seorang yang selalu dianggap rendah dan hina oleh semua orang yang Berduit ternyata lebih berjasa dibandingkan dengan mereka yang mempunyai kedudukan dan kehormatan untuk kehidupan banyak orang.
Bagaimana tidak, seorang yang hanya tukang sampah saja begitu memikirkan sesamanya dengan selalu membersihkan sampah yang berserakan dari tempat sampah agar kelihatan bersih, tidak bau, dan sehat. Tetapi apa yang kita berikan kepada mereka ini, kerjaan kita bisanya hanya membuang sampah sembarangan. Pernakah kita membantu tukang sampah? Setidaknya kita selalu membuang sampah ditempatnya kita sedikit telah membantu mereka membersihkan sampah-sampah yang ada. Sungguh Mulianya pengabdian tukang sampah. Tapi bagaimana dengan mereka yang mempunyai kedudukan, kehormatan, kekayaan yang berlimpah, apakah mereka pernah memikirkan sesamanya yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan? Sama sekali belum pernah dan bahkan tidak pernah sama sekali.
 Lihat saja mereka para koruptor, yang kerjaannya dan bisanya hanya menghabiskan uang rakyat saja. Mereka telah memakan hak-hak tukang sampah tadi. Mereka berfoya-foya di atas penderitaan orang lain tanpa memikirkan sedikitpun bahkan untuk membantu mereka. Seolah-olah mereka tidak tahu kalau disekitar kita masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan yang sekiranya mau menolong mereka para keluarga miskin. Tanpa berdosanya mereka (koruptor) masih saja memamerkan harta mereka yang belum tentu menjadi hak mereka, karena para koruptor telah memakan uang rakyat yang seharusnya untuk mensejahterakan rakyat banyak. Tetapi yang lebih parahnya lagi, kenapa pemerintah lebih memikirkan mereka-mereka para koruptor, bukannya memikirkan rakyat-rakyat kecil yang jelas-jelas membutuhkan pertolongan malah para koruptor yang mendapat perhatian lebih.
 Belum lagi mereka masih saja tetap DIHORMATI banyak kalangan orang, padahal mereka itu adalah para Koruptor yang tidak hanya memakan uang rakyat, tetapi juga telah merugikan uang negara. Apa mereka masih tetap pantas untuk Dihormati? Seharusnya yang harus dihormati itu adalah orang-orang yang telah berjasa atau telah memberikan sumbangsihnya untuk negara mereka, bukannya orang-orang yang merugikan negaranya, Contohnya saja ya, para Koruptor tadi.
Mereka-ereka yang telah berjasa untuk negaranya memang pantas untuk mendapatka apresiasi, dihormati dan mendapat perhatian lebih, bukannya para Koruptor yang mendapatkan itu semua. Kalupun para Koruptor yang mendapatkan itu semua, berarti sama saja dengan kita melegalkan tindak Korupsi di negara kita dan membiarkan Korupsi terus berkembang di negara kita. Karena Korupsi itu bukan suatu pekerjaan yang mulia, dan Koruptor bukan orang yang pantas untuk diHormati, melainkan lebih pantas untuk diHina. Karena pekerjaan Tukang Sampah jauh lebih terhormat daripada KORUPSI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar